Rabu, 24 Januari 2018

Penelusuran Spekulatif tentang BATAK

Arti Kata Batak : sebuah penelusuran dan teori Spekulatif


Jadi sesuai tulisan sebelumnya, sementara saya bekesimpulan bahwa Raja Batak (pinto: King of Batas) itu adalah merupakan Gelar turun temurun, atau nama  panggilan yang ditujukan pada Raja yang punya pusat kerajaan di Panai dengan masyarakat yang di sebut Orang-orang Batak (Pinto: Bataes).

Hasil gambar untuk Arti Kata Batak : sebuah penelusuran dan teori Spekulatif
Candi Bahal, Biaro Bahal, atau Candi Portibi I (milik ferdysiregar.com)

Mungkin dibenak anda muncul pertanyaan kenapa  di sebut Raja Batak dan Orang-orang Batak sepeti pada buku ( “The voyages and adventures of Fernand Mendez Pinto, yang dialih bahasa ke bahasa Ingris oleh H.C Gent terbit tahun 1653)

Pusat Kerajaan dari Raja Batak ada di Pannai, (Pananiu atau Panaiu) yang seperti tertulis sebelumnya ada diperkirakan ada di Padang Lawas.
Dan didaerah ini ada ditemukan komplek candi yang dibangun oleh  sekitar abat 11 bersesuain dengan serangan Rajendra Cola ke Sriwijaya dan Pannai.
Candi yang diperkirakan dibangun jaman Rajendra Cola I, Belum ditemukan apakah bangunan candi adalah tempat untuk pemujaan sahaja dan Pusat Kerajaan Raja Batak sebelum di hancurkan Aceh.Seperti  perkataan Raja Batak (Angeessiry Timorraia) pada Pinto bahwa bagian terbesar dari Kerajaannya sudah di hancurkan oleh Aceh (Pinto Hal. 21)
Jika pusat kerajaan Batak adalah benar di Pananiu (Pane saat ini) maka pastinya tidak lepas dari kawasan Candi Bahal.
Nah, harus ada suatu kejadian atau tempat atau apapun yang membuat orang memberikan julukan atau nama pada suatu rumpun , suku atau Bangsa. Dan merujuk pada pada kata Batak hanya satu kata ditemukan yang bisa dihubungkan dengan Pane dan Kawasan Candi Bahal yaitu bahan pembuat Candi , yaitu Bata Merah, yang membuat bangunan itu unik dan bertahan sampai hari ini setelah lebih dari seribu tahun di bangun.
Sesuai analisis dari ahli Bahasa Batak Prof. Uli Kozok bahwa: aksara Batak mula-mula ada di Mandailing. Dari Mandailing aksara Batak menyebar ke kawasan Toba Timur (perbatasan dengan Simalungun), lalu ke Simalungun dan ke Toba Timur. Dari Toba Timur aksara Batak menyebar lagi ke Pakpak Dairi, sedangkan dari Toba Barat ke Simalungun, sedangkan aksara Karo menunjukkan pengaruh baik dari Pakpak-Dairi maupun dari Simalungun. (Sumber: Kozok, Uli. 2009. Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak, Berikut Pedoman Menulis Aksara Batak dan Cap Si Singamangaraja XII. Jakarta: École française d’Extrême-Orient, Kepustakaan Populer Gramedia.) (wikipedia.org).
Dan tentunya wajar jika pusat Peradaban dan Budaya waktu itu adalah Pusat Kerajaan.
Maka kesimpulan saya saat ini bahwa orang Batak dan Raja Batak adalah julukan yang akhirnya menjadi gelar bagi mereka yang menjadi bagian masyarakat suatu kerajaan dan Raja nya yang berhubungan dengan Candi Bahal.
Tapi ini masih spekulatif karena harus ahli bahasa yang menterjemahkan ini, Karen sampai saat ini penulis belum bisa menemukan apakah pada abat ke 16 frasa Bata Merah (Batu Bata) sudah di pakai sebagai material pembuat candi Bahal? Kalau ya teori ini masuk akal kalau tidak teori ini gugur (yakni nama Batak Berhubungan dengan Nama  bahan Pembuat candi Bahal yakni Bata Merah).
Lalu term yang sering digunakan pada jaman dulu seperti  Nicollo La Conti (Italy) menulis Batech, Tomi Pires (Portugal) dalam Suma Oriental menulis Bata, Fernand Mendez Pinto (Portugal) dalam catatan perjalannnya menulis Batas (kadang Bataes),  William Marsden (Inggris) menulis Bata, ada juga menulis Batta, Batae, Pa’Ta dan sekarang dikenal Batak.
Tapi akarnya ini mengandung kata Bata, sangat kontroversi tapi menarik bebarapa Orang menghubungkan dengan Kata Naibata (Simalungun), Dibata (Karo), Debata (Toba) yang artinya adalah Tuhan dalam bahasa Batak tersebut.
dan Pola akan semakin menarik jika kita sebut Na I Bata (Simalungun) dan Di Bata (Karo) seperti mengarah pada satu tempat bernama Bata, meski dari Toba De Bata tidak begitu menunjukkan tempat.
Di Toba sendiri di kenal kayu Batak yang konon di pergunakan untuk membuat Tongkat Panaluan (Tungkot Panaluon).
Masih perlu diteliti lebih dalam.
Menggugat Arti Batak Kamus Besar Bahasa Indonesia

Dalam KBBI yang di kutip online (artikata.com) menyebutkan bahwa arti kata Batak adalah:
1. petualang; pengembara;
mem·ba·tak (kata Kerja) 1 bertualang, melanglang; mengembara; 2 merampok; menyamun; merampas;
pem·ba·tak (kata Sifat)  perampok; penyamun
2. suku bangsa di daerah Sumatra Utara
3. suku bangsa di daerah Sumatra Utara
Cukup aneh memang karena batak itu dulu sebuah Bangsa dengan Kerajaan seperti di catat Pinto dan Pires. Tapi kenapa artiya jadi ada kata Perampok dan Penyamun dan Merampas?
Kalau ini di tujukan pada Aru yang menurut catatan Tomi Pires dalam Suma Oriental adalah Bajak Laut masuk akal arti ini.
Tapi Batak itu kan ada di antara Pase dan Aru (Pires), dan Aru sendiri masih perdebatan posisinya.
Tapi jelas mereka-Aru adalah penguasa lautan dimana sesuai catatan Pires, Raja Batak hanya punya beberapa Lancharas untuk Patroli Semata tanpa ada pelabuhan, sementara Aru punya armada Laut yang kuat.
Dan jika kita tarik kebelakang maka dasar Bahasa Indonesia yang saya ketahui adalah Bahasa Melayu Deli. Sehingga pengertian dari Batak ini selalu tidak lepas dari pengaruh Bahasa Melayu Deli dan tentunya bagaimana orang-orang Melayu Deli dulu mendeskripsikan Batak itu.
Seperti kita tahu, awal berdirinya kerajaan Melayu Deli adalah saat Kesultanan Aceh membuat perwakilan di Deli tahun 1630. Deli selanjutnya memisahkan diri dari Aceh 1669 dengan beribukota di labuhan (20 KM dari Medan).
Hasil gambar untuk Menggugat Arti Batak Kamus Besar Bahasa Indonesia
Peta Wilayah Kediaman Berbagai Suku Batak (sumber : Toba Na Sae – Sitor Situmorang, pembuat peta tidak disebut).

Sebelum Belanda memetakan Tanah Melayu untuk dibuat lahan perkebunan, sudah ada penelitian dan identifikasi atas Tanah-Tanah di Sumatra Utara yang di buka atau di huni oleh orang-orang Batak seperti Peta di samping ini  (coba bandingkan dengan peta kabupaten di bawah).
Paling banyak korbannya tentunya Kabupaten Karo dimana luasnya tidak sampai ¼ dari daerah yang dihuni dan di buka oleh nenek Moyang Karo.
Tapi paling hebat ada pula Karo yang mengaku Bukan Batak mengatakan Batak Itu perampok dan Penyamun, padahal mereka sudah kena rampok.
Padahal bukti berkata lain bahwa yang penyamun (bajak laut) itu adalah Aru (Tomi Pires – dan sebagain Masyarakat Karo Percaya bahwa mereka adalah Laskar Kerajaan Aru – hemm) dan kerajaan Melayu di pesisir Timur yang dengan Bantuan Belanda “merampok” tanah leluhur Batak dengan bantuan Peta yang di buat Belanda dengan sesuka hati.
Belanda memang pintar, dan ingin menghindari tuduhan sebagai perampas tanah ulayat. Jadi mereka memperluas peta Kerajaan Melayu Pesisir dan membuat perjanjian Sewa menyewa dengan Kerajaan Melayu yang jadi Penguasa, dan mereka mendapatkan Tanah itu secara legal bukan?
Perlawanan Datuk Sunggal yang bermarga Surbakti atas Belanda adalah karena merasa tanah ulayatnya di Rampok oleh Belanda lewat Kerajaan Deli. Nah apakah Datuk Sunggal yang perampok atau Pemberontak? Tidak pernah ada catatan mengatkan dia adalah Pemberontak dia adalah Pejuang atas kaum dan tanahnya meski belum bisa dijadikan Pahlawan Nasional, mengingat betap repotnya Belanda dan berlarut-larutnya Perang Sunggal (1872-1895 = 23 tahun) bisa jadi Belanda Menyebut ini sebagai Batak Oorlog (perang Batak) mengutip arti Batak Melayu deli seakan mendeklaraikan Bahwa Datuk Sunggallah yang merupakan Perampok.
Perlawanan juga terjadi oleh Raja Simargolang di Asahan dan Batubara dan Juga-juga Raja Simalungun atas konsesi Tanah Sepihak oleh Belanda.
Hasil gambar untuk Menggugat Arti Batak Kamus Besar Bahasa Indonesia
Kabupaten-kabupaten di Sumatera Utara yang diwarnai, memiliki mayoritas penduduk Batak. Sumber Wikipedia.org

Dan identitas negative Batak waktu itu semakin dikukuhkan karena pada masa itu, Batak yang bukan Muslim dianggap kafir oleh Melayu dan Muslim, sehingga banyak dari Masyarakat Batak ketika masuk Islam meninggalkan semua termasuk marga, budaya dan bahasa.
Ada juga kelompok yang setengah Tanggung sehingga ini disebut oleh masyarakat Karo sebagai Maya-Maya (yang masih bermarga tetapi sudah boleh kawin semarga) dan Batak Toba mengenal Sebagai Dalle (Sama juga semarga boleh kawin dan posisi tanggung antara Melayu dan Batak).
Tapi kelompok di atas sudah mulai kembali kepada Adat Istiadat yang dipegang teguh saudaranya di pedalaman dan sebelah Barat. Tapi kadang malah mereka seperti onak duri yang sering melukai.
Jadi kenapa dikatakan Batak itu bersifat Perampok dan Penyamun? Silahkan anda Pikirkan sendiri tetapi yang perlu di Ingat dalam Republik Indonesia ini kita bersaudara, masa lalu adalah sejarah untuk menapakan kaki kedepan.
Salam Pewaris Nusantara.
Tag:  arti kata batak, defenisi batak, arti batak, Perang Sunggal, Karo Bukan Batak, Mandailing Bukan Batak, Pakpak Bukan Batak, Datuk Sunggal, Batak Oorlog, Wilayah Batak, Daerah Batak,

Siapakah “Orang” Batak Itu?

 

Hasil gambar untuk Menggugat Arti Batak Kamus Besar Bahasa Indonesia
Kabupaten-kabupaten di Sumatera Utara yang diwarnai, memiliki mayoritas penduduk Batak. (wikipedia.org)
Cerita ini kita mulai aja dari Si Marcopolo yang sekitar taon 1292 saat bertandang ke Sumatra Timur (Pantai Timur dan Barus) dan jumpa sama orang yang cerita adanya masyarakat pedalaman yang disebut sebagai “Pemakan daging manusia”.
Nah sebutan itu selanjutkan direkatkan pada Masyaratak Batech (Batak) yang cocok dengan catatan Niccolò Da Conti, si orang Venezia (sekarang Italia), yang juga bertandang ke Sumatra Tahun 1421 yang menulis catatan tentang Batak (Batech) dalam sebuah descirpi singkat: “Dalam bagian pulau, disebut Batech kanibal hidup berperang terus-menerus kepada tetangga mereka “. (Wikipedia.com).
Catatan Si Conti inilah masih bertahan sebagai bukti dokumen tertua ditemukan penulis (mungkin yang lainnya juga kan) yang menyebutkan kata Batech ( Batak).
Aku coba aja analisa pakta secara pasaran (abis ilmunya juga belum jago). Jadinya hipotesa biasa-biasa aja biar tau siapa yang kita sebut Batak itu dan betul apa enggak kalau semua  Orang Batak itu adalah  cucu –cicitnya Siraja Batak, kayak  Tarombo yang pada famili kita masyarakat  Batak Toba?”.
Tapi memang sikit kali datanya dan yang nulis juga belum jago, jadinya analisa dengan matematika anak SD, dicampur modal tukang karang sama pake  “OMPU” Google dan media internet lainnya.
Nak eh salah Nah…., kayak ditulis diatas itu, Batak sudah diidentifikasi sama Si Marcopolo taon 1292.
Sedangkan  Tarombo Batak Toba yang ada, Siraja Batak (nah ini pentingnya) adalah diidentifikasi sebagai Orang Batak mula-mula, nah sekarang paling nggak udah ada keturuannya sampai nomor  ke 25 (taon 2012 ini).
Kalau satu generasi di itung 25 taon, maka, maka Batak itu sudah ada sekitar: 25 X 25 Taon = 625 Tahun lalu
Artinya manusia pertama yang disebut Batak itu lahir sekitar = 2012 – 625 = Taon 1387 Masehi.
(Jangan marah trus bilang ada yang baru kawin di usia 30 tahun ya, kan yang kawin 15 taon juga ada.)
Jadi kek hipotesa sederhana tadi, ditaon 1387 Masehi itu masih ada satu Orang Batak dan kan nggak mungkin juga, satu orang bikin rebut di pesisir barat dan timur Sumatra. Klo kita bandingkan sama Catatan si Conti pada tahun 1421 itu saat itu Batak adalah sebuah Komunitas Besar.
Jadi Batak itu udah ada sebelum Siraja Batak dalam Tarombo Toba itu lahir bukan?
Semoga dengan tulisan singkat ini kita tidak mengecilkan Batak sebagai hanya Keturunan Si Raja Batak seperti Tarombo dari Toba, dan semoga (dengan dukungan saudara-saudara semuanya) kita mampu setahap demi setahap merangkai benang kusut akan Sejarah Batak yang katanya adalah Bangsa yang besar diluar dari apa yang kita ketahui.
Kan bisa aja Gelar Siraja Batak itu adalah Gelar turun temurun dan bisa aja Si Raja Batak seperti Tarombo Toba adalah Raja (sesungguhnya) yang terakhir atau penomoran sekarang masih perlu di koreksi lagi, atau marga yang ada sekarang adalah marga yang dihidupkan lagi paska runtuhnya sebuah dinasti.

Misteri Kerajaan Pannai


Prasasti Tanjore jelas menuliskan Kerajaan Pannai dengan kolam airnya merupakan Taklukan Rajendra Cola I dari Colamandala India.
Menariknya Kerajaan Pannai yang tidak dapat dilepaskan dari Candi Bahal, tidak ada yang merasa menjadi pewaris atau keturunan dari Pannai sebagai Negara atau keturunan dari Raja-Raja Pannai dengan kata lain semua suku atau kelompok masyarakat tidak pernah mau mengklaim Pannai sebagai nenek moyang mereka atau menyinggungnya sedikit saja?
Masyarakat Angkola sendiri tidak pernah mengklaim bahwa merekalah keturunan Pannai sebenarnya. Masyarakat Mandailing yang tidak merasa Batak malah merasa nenek moyang mereka berasa dari kerajaan Holling, Masyarakat Karo yang tidak mau disebut Batak mengait-ngaitkan mereka dengan kerajaan Aru (Haru), masyrakat Simalungun yang tidak merasa dari Toba mengait-ngaitkan mereka dengan kerajaan Nagur, Masyarakat Pakpak tidak merasa Batak merasa moyang merekalah petani Kapur Barus yang mensupli pedagang di kota barus yang sudah exist ribuan tahun lalu, dan masyarakat Toba berpegang dengan cerita-cerita pusuk Buhit.
Sementara Minang dan Melayu Pesisir Pantai Timur Sumatra juga tidak pernah mengakui ini dengan beragam argument asal dan sejarah.
Ada Apa Kerajaan Pannai?
Ada Apa Kerajaan Pannai?
Hasil gambar untuk Misteri Kerajaan Pannai

Salah satu Prasasti Rajendra Cola di Kuil Kailasanathar – Uttaramerur (sumber :  TheHindu.com)

Sama sekali tidak ada yang membela kerajaan Pannai, sampai-sampai ketika sebagian masyarakat dan ahli mengatakan Pannai sebagai kerajaan kecil dan taklukan Sriwijaya yang sepertinya tidak ada yang mencoba menentang atau menolak, bahwa ternyata menurut prasasti itu ada dua kerajaan di Sumatra yang di taklukan Rajendra Cola I dari India, yaitu Pannai dan Sriwijaya sepertinya tidak penting.
Sejarah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan Riau tidak mungkin lepas dari sejarah Pannai. Dari Pannai lah bukti awal yang tertulis dalam Prasasti sebelum muncul nama daerah-daerah itu.
Peninggalannya masih ada yaitu Candi Bahal yang konon sudah 32 buah Candi yang ditemukan (Erond L Damanik – sejarawan UNIMED), tetapi tidak ada juga kelompok etnik atau masyarakat yang setidaknya mendesak pemerintah untuk mengalokasikan anggaran untuk penelitian. Dan seperti juga Pannai komplek Candi bahal juga tidak ada yang merasa sebagai warisan Nenek Moyangnya sehingga tidak ada yang merasa kepemilikan.
Hanya kalangan sejarawan yang bisa jadi tidak terlibat secara emosional dengan Candi ini yang berteriak-teriak minta perhatian Pemerintah.
Seperti catatan Pinto bahwa Raja Batak bernama Angeessiry Timorraia mempunya pusat kerajaan di Pannaniu (Pannaiu) sering dihubungkan dengan Pane di Padang Lawas dimana komplek Candi Bahal juga ada disitu.
Logis sebenarnya kalau Entik Batak-lah pewaris langsung kerajaan Pannai karena dari segi Aksara Budaya ada perbedaan mencolok dengan Aceh, MInang Dan Melayu yang sudah sangat dipengaruhi Islam.
Ironisnya Etnik yang masih dikategorikan Batak terkotak-kotak dengan urusan asal usulnya menurut mitos-mitos atau kepercayaan etnik masing-masing.
Seberapa pentingkah Pannai? Sangat penting sekali karena saat ini Masyarakat kita merasa tidak berasal dari satu nenek moyang, sehingga masih terpecah-pecah dalam etnis dan sub etnis.
Jikalau bendera Batak dan Melayu sudah memecah Sumatra Utara seperti kata Perret, kenapa kita tidak munculkan satu bendera baru bernama Pannai?
Pannai seperti lenyap ditelan bumi. Sebuah misteri yang harus di ungkap. Seperti mimpi buruk yang harus di hindari oleh nenek moyang kita di Sumatra utara, Riau dan Aceh.

Adat Batak : Sebuah Perjalanan Panjang tentang Seni Kehidupan


Adat bukan hanya pakaian (ulos, Hiou, Uis Gara) atau tarian (Tortor, Landek) atau seromoni (pesta Kelahiran, perkawinan, Kematian dan lain-lain), hal-hal itu dan seperti itu adalah perlengkapan atau kelengkapan atau bisa kita sebut perangkat atau bagian dari adat itu sendiri.

Hasil gambar untuk Adat Batak : Sebuah Perjalanan Panjang tentang Seni Kehidupan
Adat sejatinya adalah seni/teknik dalam mengarungi kehidupan yang telah di sepakati oleh pendahulu kita, yang diwariskan/diturunkan untuk kita pelajari, ikuti ataupun di rubah sesai jika memang harus mengikuti perkembangan jaman, agar kita bisa bertahan, bersaing dan berhasil dalam mengarungi kehidupan yang dinamis ini, tetapi semangat dan Jati Diri Adat tadi tidaklah boleh hilang. Adat adalah desahan nafas. Jati diri kita adalah gambaran sejati adat yang kita ikuti.
Adat adalah seni/teknik kehidupan. Seni/teknik yang gagal tidak akan meninggalkan bekas atau musnah dan seni yang  berhasil akan bertahan dan dibanggakan oleh kaumnya, disegani dan diakui kaum lainnya. Kesuksesan Adat yang terkadang tampil sebagai hukum sosial yang mengikat dapat dilihat dari bagaimana posisi tawar dari kaum itu dalam lingkup pergaulan sosial.
Adat Batak adalah seni bertahan dan berjuang dalam segala aspek kehidupan orang batak, sehingga masyarakat Batak bisa bertahan dan eksis dalam kehidupan sampai hari ini.
Masyarakat yang bangga dengan marganya, bangga dengan kulturnya, bangga dengan tariannya, bangga dengan busana tradisional (yang terkenal kasar itu), bangga dengan bahasanya, karena Adat Batak itu benar-benar mampu membuat mereka yang memakainya mampu melangkah, berjuang, bertahan dan muncul ke permukaan.
Jauh dulu sebelum runtuhnya Kerajaan Batak, Fernand Mendez Pinto yang mengunjungi Pusat Kerajaan Batak yang di sebut Pananiu (Panaiu) tahun 1939,  yang menurut catatannya ada di sisi lain dari laut mediterania (Selat Malaka – Penulis).
Dia yang datang diundang oleh Raja Batak bernama Angeessery Timorraia (Anggi Sori Timoraya – penulis) yang sebelumnya telah mengutus iparnya bernama Aquareem Dabolay membawa sepucuk surat Raja Batak yang ditulis pada kulit pohon Palem, ke Malaka ditengah keresahan akan gempuran tentara Aceh yang merupakan perpanjangan Tangan Kekaisaran terbesar di dunia saat itu yaitu kesultanan Ottoman (Kesultanan Utsmaniyah – Turki saat ini), yang sudah merebut dua tempat Penting Kerajaan Batak yaitu Jacur (Nagur) dan Lingua (Lingga – Benteng Putri Hijau?).
Pinto mencatat, setelah utusan Raja Batak itu (yang merupakan Iparnya) sudah tujuh belas hari bersama di Malaka, Pedro de Paris yang baru menjabat Kapten di Malaka saat itu pun mengucapkan perpisahan, setelah menjamin persenjataan dan perlengkapan yang di minta akan diberikan, Sang duta Besar Aquareem Dabolay meninggalkan Benteng dengan sangat puas, ia meneteskan air mata saking gembiranya. Ditulis Pinto : ketika Utusan Raja Batak ini melewari Pintu Besar Gereja, dia memutar ke arah Gereja itu, dengan tangan dan mata angkat ke Surga (langit-penulis), dan kemudian disitu dia berdoa kepada Tuhan. “Tuhan yang Mahakuasa” katanya membuka doanya. “Yang bertahta dan hidup dalam sukacita besar, Yang duduk diatas harta kekayaan yang berlimpah, semangat jiwa yang di bentuk oleh-Mu, di sini aku berjanji kepada-Mu, akan menjadi kegembiraan yang baik jika Engkau berkenan memberikan kemenangan atas tirani Aceh dan mendapatkan kembali kemenangan itu dari Raja Aceh, dari pengkhianat terkenal seperti dia yang telah mengambil dua tempat dari kami yaitu Jacur dan Lingua. Kami akan selalu setia dan tulus mengakui engkau menurut dengan Hukum Portugal, dan menurut kejujuran suci, yang terdiri dari semua Seni keselamatan yang lahir di Dunia. Selanjutnya, di Negara kami akan membangun Candi adil kepada-Mu, wangi dengan bau manis, Dimana semua jiwa hidup wajib sambil berlutut memuja Engkau, seperti yang selalu berlaku dan dilakukan untuk-Mu saat ini ini di Tanah Portugal dan dengarlah selain aku berjanji dan bersumpah kepada-Mu dengan semua keyakinan dari hamba yang baik dan setia bahwa Raja Guruku tidak akan pernah mengakui setiap Raja lain dari Raja Portugal yang besar, yang kini Tuan di Malaka”
Selanjutnya dia masuk ke Perahu dan kembali ke Tanah Batak. Cat.: sedikit gambaran memang terbersit akan ketidaktahuan bahwa Portugal sampai ke Malaka adalah atas Perintah Paus.
Pinto mencatat, Saat dia tiba di Pananaiu (Panaiu), Ketika dia hendak masuk ke istana Raja Batak untuk menjumpai Raja Batak di pusat Kerajaan Batak bernama Pananiu/Panaiu (apakah pusat ini adalah paska Jatuhnya “Jacur” (Pen-Nagur) dan Lingua (Pen-Lingga), dengan melalui lapangan pertama, di pintu masuk kedua Pinto menemukan seorang wanita tua, disertai dengan orang-orang lain yang jauh lebih mulia, dan lebih baik dan sejajar, orang-orang  berbaris di depannya, yang memberikan dia sinyal dengan tangannya, seolah-olah dia telah memerintahkan dia untuk masuk.
“Lelaki dari Malaka” kata wanita itu pada Pinto, “Kedatangan-mu di tanah Raja pemilik tanah kami adalah menyenangkan hatinya, seperti siraman hujan pada tanaman padi dalam cuaca kering dan panas, oleh karena itu masuklah dengan berani, dan jangan takut, untuk Rakyat, yang dengan kebaikan Tuhan kaulihat di sini, yang tak lain adalah negaramu sendiri, sejak harapan yang kita miliki dalam Tuhan yang sama membuat kita percaya bahwa ia akan mempertahankan kita semua bersama-sama sampai akhir dunia” lanjutnya. Adakah ini ungkapan akan kekawatiran besar akan Aceh, sekaligus sebuah rasa percaya bangsa Tuhan tidak akan memusnahkan Bangsa ini? Bisa jadi, tapi lihatlah betapa bernilainya ucapan Ompung/Nini itu. Masih menjadi pertanyaan apa yang dimaksud dengan Tuhan yang Sama? Apakah wanita Tua itu adalah seorang Kristen ditengah Bangsa Batak yang rajanya sendiri masih menyembah Dewa yang disebut “Quiay Hocombinor”, “Ginnasserod (Dewa Kesedihan) (Pinto 1539) ? Dan engingat sudah ada gereja abad ke 7 masehi di Barus (Barus Seribu Tahun lalu).
Inilah sekelumit kisah nyata saat-saat sebelum runtuhnya Kerajaan Batak di tangan Kesultanan Aceh yang dicatat oleh Fernand Mendez Pinto.
Kerajaan Batak itu nyata dan ada tercatat dengan Jelas oleh Fernand Mendez Pinto dan Tomi Pires. Dan cukup aneh memang bahwa semua yang menulis kerajaan di Sumatra Mengutip Pinto dan Pires tetapi seperti “menghilangkan” Kerajaan Batak.
Lalu kenapa tidak ada Raja yang berkuasa absolute di Kerajaan Batak seperti daerah lain? Ada bebarapa kerajaan yang berdiri saat Belanda masih berkuasa di Sumatera, tapi sepertinya sebelum masuknya Belanda dan menguasai sebagain Tanah Batak ditandai dengan takluknya Raja-Raja, di kedua daerah ini belumlah memiliki perlengkapan untuk berdiri sebagaimana seharusnya sebuah kerajaan (merujuk pada catatan John Anderson, Mission to East Cost of Sumatra : 1826).
Dalam hal ini masih belum didapat bukti  valid tentang hubungan Raja Batak dalam Tarombo Toba dengan Raja Batak dalam yang ditemuai Pinto. Tetapi dengan mengikuti adat yang meniadakan Raja sesungguhnya Bangsa Batak malah bisa bertahan dengan dan menjadi salah satu suku Bangsa terkemuka di Indonesia saat ini lebih dari Aceh yang dulu didukung kesultanan terbesar dunia kesultanan Turki Ottoman dan juga goyang akibat runtuhnya Kesultanan ini. Ataukah ini juga adalah bentuk tekanan Aceh untuk menghindari Pembalasan, sehingga memaksa leluhur  batak untuk memutar otak mencari bentuk sejati yang selanjutnya kita sebut adat untuk bertahannya Bangsa Batak ini? Masih perlu penelusuran.
Jadi saat ini saya berani beretorika apa yang saya sebut Pengungsian ke Pusuk Buhit adalah sebuah produk Revolusi Budaya (Adat) yang membuat semua Masyarakat Batak mempunyai kedudukan yang relative sama dan akan pernah mengalami semua posisi dalam istilah Dalian Na Tolu (Angkola, Mandailing, Toba) atau di kenal dengan Rakut Sitelu (Karo), Daliken Sitelu (Pakpak) atau  Tolu Sahundulan (Simalungun). Pengungsian dalam artian pegasingan diri untuk lebih menata kehidupan, karena harusnya secara fakta sudah ada manusia ribuan Tahun lalu di seputaran danau Toba sebagai petani Kemenyan (Tambak Hamijon) dan Kapur Barus yang memang tidak bisa tumbuh dan menghasilkan kwalitas dunia ditempat lain.
Dalam struktur Masyarakat Batak Modern Raja tetaplah di pertahankan dimana Posisi diambil alih oleh Hula-Hula (Toba) atau Mora (Angkola, Mandailing) atau Kalingbubu (Karo) atau Kula-Kula (Pakpak) atau Tondong (Simalungun), bahkan menjadi lebih tinggi karena posisi ini dianggap sebagai Tuhan yang kelihatan (Debata/Naibata Na I idah atau Dibata si idah), meski agak rancu dengan kenyataan adanya posisi raja sesungguhnya di Simalungun yang berawal dari Raja Maropat ke Raja Marpitu yang eksistensinya mendapat pengakuan dari Belanda melalui Kontrak Pendek.
Dalam Toba Na Sae, Sitor Situmorang juga menulis dengan gamblang bahwa Sisingamangaraja adalah Pemimpin tertinggi tetapi bukanlah Raja sebenarnya, dia hanya Raja di daerah Bius Bakkara (Bius adalah kumpulan beberapa Huta – Kampung). Umumnya ada kesepakatan bahwa posisinya adalah Pandeta Raja (Highest Priest) Golongan Sumba, disamping itu ada Palti Raja Pandeta Raja Golongan Lontung dan Jonggi Manaor Pandeta Raja Naimarata (Keturunan Guru Teteabulan tidak termasuk Lontung).
Ketiga daerah ini bukan dibatasi oleh tapal batas territory tetapi tapal batasnya menjadi bias karena wilayahnya adalah wilayah geneology dengan keterikatan emosional dan sosial.
Tapi posisi itu bukan alasan untuk tidak menghormati hula-hula. Sitor mencatat bahwa pada saat Sisingamangaraja XII mengungsi kearah perkampungan mertuanya (Hula-hula) yaitu Lintong Ni Huta (kampung Marga Situmorang) dia tidak tinggal di dalam Kampung akan tetapi dia membuat tempat (sejenis tenda) di luar perkampungan. Begitulah tingginya posisi Keluarga Mertua (hula-hula) sehingga seorang tokoh besar dan kuat itu masih tidak berkutik atas otoritas Raja Situmorang (Raja Bius/Kampung) yang merupakan mertuanya (Hula-Hulanya).
Dalam kehidupan Masyarakat (Adat Batak) maka semua orang mempunyai posisi, yang otomatis akan mengetahui dimana posisinya dalam horja/kerja adat itu, posisi itu berubah tergantung pada tempat dan waktu yang sesuai. Saat seorang Batak berada dalam satu tempat dan masa maka seyogianya dia tahu harus duduk diman dan harus tahu apa yang diperbuat/dikerjakan.
Dalam dalam pelaksanaannya semua sebenarnya adalah kesadaraan untuk kepentingan bersama yang bernama semboyan Dos Ni Roha, Riah Ni Uhur, Sada Arih/Sada Ukur dan lainnya yang menunjukkan betapa tingginya peradaban Batak mengedepankan musyawarah mufakat dalam mencampai kata sepakat. Jadi Sila Keampat Pancasila itu juga adalah salah satu perwujudan Adat Batak.
Hal di atas hanyalah aspek garis besar dalam kehidupan Adat Batak, masih banyak hal-hal yang lebih detail yang telah mampu membuat semua Masyarakat Batak eksis dan mampu mengambil peran dalam kehidupan jaman modern ini.
Sesukses apakah adat Batak hingga kini?
Dalam Catatan Pinto terlihat bahwa tahun 1539, Sultan Aceh Sultan Araadin (seperti yang ditulis pada catatannya), telah menundukkan Kerajaan Batak, sesuai suratnya pada Raja Jantana di Bintan.
Artinya dalam mempertahankan agar Bangsa ini tidak musnah setelah kejatuhannya Raja Batak telah mengangkat semua anaknya Menjadi Anak Raja semua Putrinya menjadi Boru Raja (Putri Raja), tidak ada lagi yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah, semua bias berputar dan semua bias merasakan, setara-serasa-selaras (meski teori ini masih harus di kaji lebih dalam).
Sesukses apakah peninggalan leluhur itu? Sesukses keberadaan kita saat ini di panggung Nasional dari segala bidang, meski kadang himpitan tetap terasa.
Tapi di jaman ini terkadang ada banyak dari kita yang bermarga yang menolak Batak meski memakai marga atau terkadang terdengar “hari gini masih bicara adat batak?”. Seolah menistakan apa yang telah dilakukan nenek moyang kita yang membuat kita saat ini lebih besar dari Aceh yang meruntuhkan Kerajaan Batak dulu.
Ada dari berbagai kalangan yang mengidentikkan Adat Batak itu adalah adat kaum kafir, tanda menyadari atau mencoba mengerti bahwa kekafiran dan kebebalan nenek moyang dahulu membuat itulah yang membuat eksis dan bangga akan menyematkan marga di nama kita saat ini.
Bahwa kekafiran itu ada pada Adat Batak menurut agama Samawi (katakanlah kebiasaan yang menduakan Tuhan) bukankah kita bisa mengenalkan Tuhan kita yang lebih berkuasa atas yang lainna? Adakah nenek moyang di alam sana akan keberatan jikalau kita menyembah pada Tuhan yan tidak mereka kenal, Tuhan yang bisa kita tunjukkan sebagai paling berkuasa dan terkuat? Tidak akan ada Nenek Moyang entah pun berada dimana tidak akan bangga jika kita mempunyai Sembahan yang benar.
Ketimbang hanya mencela, menjauh dan menghakimi sementara tanpa kita sadari hal itu adalah keegoisan kita akan sebuat Iman atau mengutip seorang teman menyebutnya sebagai “Kesombongan Iman”. Sebuah sikap pengecut yang  sebenarnya tidak disukai semua agama dan kepercayaan karena dalam pandangan saya sikap itu hanyalah sikap yang ingin menyelamatkan dan menyenangkan diri sendiri semata.
Dan tidak aka nada nenek moyang sebenarnya yang dalam bentuk apapun itu akan mencelakan kita karena kepercayaan dan Iman kita berbeda dengan mereka, terlebih kita bisa menunjukkan bahwa Tuhan yang kita sembah adalah penguasa sesungguhnya maka mereka akan bangga akan pilihan kita. Hanya mampukah kita menunjukkan bahwa Tuhan yang kita percaya adalah lebih berkuasa?
Mari terus menggali dan mengembangkan (merubah jika perlu) adat dan peradaban Batak, karena pesan itu telah nyata, mengutip Prof. Uli Kozok dalam sebuat diskusi mengatakan bahwa ada kemungkinan nenek moyang Batak yang mengenal tulisan itu tidak menuliskan aturan/adat agar adat itu bisa flexible dalam dalam kehidupan. Sehingga kita bisa meraasakan sekarang bahwa adat di tiap daerah itu ada perbedaan dan keragaman yang dalam bahasa Dos Ni Roha, Riah Ni Uhur, Sada Arih/Sada Ukur adalah kekayaan yang luar biasa.
Perbedaan yang telah memunculkan kemampuan diplomasi dan lobi yang luar biasa, sehingga Batak sangat tampil dan akan terus tampil dalam Politik, Ekonomi, Seni dan Sastra, Pengacara, dan hampir semua aspek kehidupan berbangsa, adakah ini kebetulan atau ini tempaan dari kehidupan adat? Inilah sebenarnya kekayaan Adat itu dimana kita terbiasa menghadapi perbedaan dan siap untuk itu, meski ironisnya Batak itu cenderung Jago Tandang tapi Kandang masih berantakan. Atau ini juga adalah karena ketidaksiapan masyarakat kampung atas perbedaan dan perubahan? Masih perlu pengkajian mendalam.
Tag: Filosofi adat batak, Adat Batak, Adat Batak Toba, arti adat, adat karo, Adat Simalungun, Adat Mandailing, Adat Pakpak,  adat Angkola, pengertian Adat, Pengertian adat Batak, arti adat istiadat,
Setua apakah Nenek Moyang Batak?
Dalam berbagai diskusi yang saya dapat seperti inilah persepsi kita
Hasil gambar untuk Setua apakah Nenek Moyang Batak?
Salah satu warga Desa Pandumaan yaitu Tohap Pandiangan di pohon kemenyan miliknya (photo : kompasiana.com)

1. Setua Si Raja Batak yang maksimal kira-kira 25 generasi sampai hari ini mengikut Tarombo Toba, dilawan kabar lainnya bahwa Munte (belakangan sudah mengerenkan diri menjadi Munthe-jangan lupa pake H sudah hampir 30 generasi lalu ada juga Selian yang katanya  di Alas sudah ada 26 generasi).
2. Setua Karo karena Karo berasal dari Kerajaan Aru yang konon lebih tua dari point satu di atas, tapi Sifat Bajak Laut Aru (Tomi Pires – Suma Oriental) tidak kelihatan dalam kehidupan Saudara kita Karo (dan semoga memang tidak ada he .. he.. he.. canda kdkd) dan belum bisa dibuktikan sungai mana di Sumut yang bisa dilayari yang sampai membelah Sumatra (Tomi Pires – Suma Oriental), meski ada yang tulis sungai Babura. Kenyataan sungai di Riau yang bisa dilayari hingga Pekan Baru ke Selat Malaka dan sebaliknya hingga hari ini.
3. Setua Nagur, tapi jejak Nagur yang tertulis pengelanan asing yang saya temukan ada ditahun 1400-an, meski kabar dari Simalungun ada dari tahun 500 masehi.
4. Setua Mandailing, yang katanya nenek moyangnya punya kerajaan Holing (kalingga) sudah berdiri lebih tua dari item 1 diatas dan disebut sebut dalam kita Negara Kertagama.
5. Kemudian ada pengakuan keturunan Mpu Bada dari Pakpak yang mengatakan bahwa nenek moyang mereka petani Kapur Barus sejak Ribuan tahun lalu. Lebih masuk akal ini tetapi muatannya tetap lebih tua dari items 1 diatas.
Lalu setua Apa Nenek Moyang kita?
Yang saya dapat setua sejarah Kemenyan, Kapur Barus dan Emas terbaik di dunia yang sejak ribuan tahun lalu telah di perdagangkan Nenek Moyang kita kemancanegara lewan pelabuhan Barus (Fansur)Tempo DOELOE.
“Ha.. ha. ha.. ha..”, 2 orang teman yang mendengar kalimat saya tertawa terbahak bahak mendengar saya bilang ribuan tahun lalu nenek moyang kita sudah berdagang ke seluruh dunia.
Kemudian saya katakan mereka Nama Sumatra itu dulu dikenal sebagai Taprobana (meski masih kontroversi beberapa ahli) yang sudah dicatat orang Yunani  Megasthenes tahun 290 sebelum masehi (mengutip Wikipedia – meski ada sebagian mengatakan Sri Langka) dan saya katakan lagi nama lain Sumatra itu adalah Isle of Gold atau Island of Gold yang Bahasa Indonesia nya: Pulau Emas.
Teman saya si Purba dan Karo-Karo makin tertawa terbahak-bahak, dan yang dari Jawa senyam-senyum (wah memang kelewat sopan Mas Suko ini – angkat topi deh sopannya).
Saya kemudian lanjutkan bahwa itulah yang membuat Paus Menyuruh Raja Portugal dan Spanyol untuk menjelajah ke Timur ke Pulau Emas – The isle of gold – the Island of Gold, meski ketika penjelajah itu tiba tidak ditemukan Pulau emas itu. Pastinya ada apa di Timur Jauh sehingga Kekaisaran Ottoman Turki sangat kuat waktu itu.
Teman si Karo itu pun mengatakan : “ Enak kalau bahas ini waktu libur di warung kopi seharian suntuk”. Dan keduanya kembali tertawa terbahak-bahak. “Ha…. Ha.. Ha..”, dan teman saya Si Mas Jawa tetap senyam-senyum aja.
Lebih ketawa lagi mereka karena saya katakan bahwa  Emas Persembahan Ratu Dari Timur itu dari kabar teman Kita Muslim bernama Ratu Bilqis sumber lain mengatkan Ratu Syeba (Dalam Alkitab tidak di sebut Namanya). Bahwa Ratu Syeba atau Ratu Bilqis ini membangun pembengkelan perhiasan yang disebut daerah Minangkabau, yang membawa emas sangat banyak melewati Sungai Lampung dan dibawa Jerusalem pada Raja Agung Salomo /Sulaiman- (Fernand Mendez Pinto – The voyages and adventures of Fernand Mendez Pinto). Dan juga ditulis disitu bahwa Ratu Syeba/Bilqis membawa anak Salomo kembali ke Negaranya meski tidak jelas apakah ini anak biologi Ratu ini Juga. Tetapi ada beberapa dari kita mengaku sebagai keturunan Jahudi. Meski dalam hati bebal dan tegar tengkuknya memang mirip, hi… hi… hi…, canda lagi.
Belum banyak yang bisa kita buktikan karena kita masih sibuk pada diskusi keunggulan satu sama lain, belum pada kemurnian atau kebenaran sejarah sendiri.
Sementara Media, dari Facebook, Twitter, Forum diskusi, Kompasiana, Blogger memungkinkan kita menulis dan mempublikasi tanpa harus ada tuntutan dan pertanggung jawaban, terlebih bagi mereka yang suka main cuplik sana-sini (saya masuk kategori ini juga kali?).
Setua apakah Nenek Moyang Batak?
Saya tidak tahu pasti, tapi setua hal beriktu ini:
1. Setua 
Sejarah Kemenyan terbaik di Dunia yang sudah di perdagangkan ribuan tahun lalu di Pelabuhan Barus/Fansur tempo dulu, yang jejaknya hampir musnah oleh pabrik Rakus Kayu PT Toba Pulp Lestari, Hutan Kemenyan yang dikenal dengan Nama Lokal “Tambak Haminjon” atau “Tambak Hamijon”di Daerah seputaran Danau Toba yang harusnya adalah kebanggaan akan sejarah peradaban Nenek Moyang.
2. Setua Kapur Barus terbaik di Dunia yang sudah di perdagangkan ribuan tahun lalu di Pelabuhan Barus/Fansur tempo dulu, yang mungkin karena kerakusan mesin PT. Toba Pulp Lestari juga akan mengejarnya tanpa ampun suatu saat nanti.
3. Setua Emas terbaik di Dunia yang sudah di perdagangkan ribuan tahun lalu di Pelabuhan Barus/Fansur tempo dulu, yang ada jejaknya di Batang Toru , dan tidak menutup daerah lain di Sumatra Utara yang konon melimpah tambangnya.
Iya kita masih sibuk pada ego masing-masing dan sejarah Sriwijaya dan Majapahit sering menjadi acuan untuk menenggelamkan mereka yang kita anggap pesaing, meski jaman Majapahi Kerajaan Samudra Pasei Lagi Jaya-jayanya.
Dan kita tidak pernah coba tahu apa sebenarnya tertulis dalam Prasasti Tanjore, yang hanya mencatat hanya dua tempat di Sumatra yang di tundukkan Rajendra Cola dari Colamandala (India) yaitu Sriwijaya dan Pannei.
Nenek moyang kita memang sepertinya tidak mengingini kita mengetahui sejarah sebenarnya, atau belum waktunya kita tahu saat ini. Tapi setidaknya saat ini, janganlah kita biarkan jejak-jejak yang tersisa akan sejarah besar leluhur kita tenggelam hanya oleh kerakusan Pabrik Kertas PT. Toba Pulp Lestari atau yang lainnya. MARI ada waktu untuk bersama.

Tag: Karo bukan Batak, Mandailing Bukan Batak, Simalungun bukan Batak, Pakpak Bukan Batak, Sejarah leluhur Batak, sejarah leluhur Karo, Sejarah leluhur Angkola, Sejarah Leluhur Mandailing, Sejarah Leluhur Simalungun, Sejarah leluhur Pakpak, Sejarah leluhur Toba,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar